Saturday, September 15, 2007

PUASA DAN PESAN MORAL

Oleh : M. Taufik Bill Fagih*

Ibadah shaum (puasa), seperti halnya ibadah-ibadah lain di dalam
Islam, merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bukan hanya puasa saja yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri
kepada Allah – ini yang sering kita lupakan – tetapi semua ibadah yang
kita lakukan sebetulnya merupakan sarana untuk mendidikkan nilai moral
tertentu, nilai akhlak tertentu.
Setiap ibadah, baik ibadah shaum atau ibadah lain, di dalamnya
terkandung apa yang kita sebut sebagai pesan moral. Bahkan begitu
mulianya pesan moral ini, sampai Rasulullah saw. menilai "harga" suatu
ibadah itu dilihat dari sejauh mana kita menjalankan pesan moralnya.
Apabila ibadah itu tidak meningkatkan akhlak kita, Rasulullah
menganggap bahwa ibadah itu tidak bermakna. Dengan kata lain, kita
tidak melaksanakan pesan moral ibadah itu.
Dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa pada bulan Ramadhan ada seorang
wanita sedang mencaci-maki pembantunya. Dan Rasulullah Saw.
mendengarnya. Kemudian beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan
dan memanggil perempuan itu. Lalu Rasulullah bersabda, "Makanlah
makanan ini." Perempuan itu menjawab, "Saya sedang berpuasa ya
Rasulullah." Rasul yang mulia bersabda lagi, "Bagaimana mungkin kamu
berpuasa padahal kamu mencaci-maki pembantumu. Sesungguhnya puasa
adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang
tercela. Betapa sedikitnya orang yang shaum dan betapa banyaknya orang
yang kelaparan."
Ketika Rasulullah mengatakan "Betapa sedikitnya orang yang puasa, dan
betapa banyaknya orang yang kelaparan", Nabi menunjukkan kepada kita
bahwa orang-orang yang hanya menahan lapar dan dahaga saja, tetapi
tidak sanggup mewujudkan pesan moral itu, tidak lebih sekadar
orang-orang lapar saja.
Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda, "Banyak sekali orang yang
berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga."
Seseorang bisa saja melakukan ibadah puasa. Dia sanggup mewujudkan
pesan moral puasa itu. Bahkan kalau orang itu puasanya cacat, atau
puasanya itu batal, atau melakukan hal-hal yang terlarang, secara
fiqih, maka tebusannya adalah menjalannkan pesan moral itu. Misalnya,
pada bulan puasa, sepasang suami-isteri bercampur pada siang hari,
maka kirafatnya ialah memberi makan enam puluh orang miskin, karena
salah satu pesan moral puasa ialah memperhatikan orang-orang yang
lapar di sekitar kita.
Oleh sebab itu, kita temukan orang-orang yang tidak sanggup berpuasa,
di dalam Al-Qur'an, diharuskan untuk mengeluarkan fidyah buat
orang-orang miskin. Jadi, kalaupun tidak sanggup menjalankan ritus
puasa, tidak sanggup melakukan upacara pelaksanaan puasa itu, paling
tidak, laksanakanlah pesan moral puasa itu. Yaitu menyantuni fakir
dan miskin.
Sekali lagi, semua ajaran Islam itu mengandung pesan moral. Dan pesan
moral itulah yang saya pikir dipandang sangat penting di dalam Islam.
Mengapa Islam menekankan prinsip moral itu? Prinsip akhlak itu? Karena
kedatangan Rasulullah yang mulia bukan hanya untuk mengajarkan zikir
dan do'a. bahkan Nabi secara tegas mengatakan bahwa misinya ialah
untuk menyempurnakan akhlak; termasuk ibadah shaum, bangun tengah
malam dan shalat. Semuanya diarahkan untuk menyempurnakan akhlak
manusia. Bahkan kalau ada orang yang menjalankan pelbagai ibadah,
tetapi kurang memperhatikan akhlaknya, Islam tidak menghitung ibadah
itu. Ada pernyataan kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah ada orang yang
berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk melakukan
qiyamul lail, tetapi ia menyakiti tetangganya dengan lidahnya." Maka
Rasulullah Saw. menjawab, "Dia di Neraka."
Nabi pernah bertanya kepada sahabat-sahabatnya, "Tahukah kalian siapa
yang bangkrut itu?" Para sahabat berkata, "Bagi kami yang bangkrut itu
ialah orang yang kehilangan hartanya dan seluruh miliknya." "Tidak,"
kata Rasulullah. "Yang bangkrut ialah orang yang datang pada hari
kiamat dengan membawa pahala dari shaum-nya, pahala zakatnya dan
hajinya, tetapi ketika pahala-pahala itu ditimbang datanglah orang
mengadu, `Ya Allah dahulu orang itu pernah menuduhku pernah berbuat
sesuatu padahal aku tidak pernah melakukannya. ' Kemudian Allah
menyuruh orang yang diadukan itu untuk membayar orang itu dengan
sebagian pahala dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu tersebut.
"Kemudian datang orang yang lain lagi dan mengadu, `Ya Allah hakku
pernah diambil dengan sewenang-wenangnya' . Lalu Allah menyuruh lagi
membayar dengan amal shalehnya kepada orang yang mengadu itu.
"Setelah itu datang lagi orang yang mengadu; sampai seluruh pahala
shalat, haji dan shaumnya itu habis dipakai untuk membayar orang yang
pernah haknya dirampas, yang pernah disakiti hatinya, yang pernah
dituduh tanpa alasan yang jelas. Semuanya dia bayarkan sampai tidak
tersisa lagi pahala amal shalehnya.tetapi orang yang mengadu masih
datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu
dipindahkan kepada orang itu."
Kata Rasulullah selanjutnya, "Itulah orang yang bangkrut di hari
kiamat", yaitu orang yang rajin menjalankan ritus-ritus itu,
upacara-upacara ibadah (shalat, shaum, zakat dan lain sebagainya)
tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang
lain dan menyakiti hati mereka.
Lalu, sebenarnya apa yang menjadi pesan moral ibadah shaum yang kita
lakukan itu. Salah satu pesan moral ibadah shaum yang utama ialah kita
dilarang memakan makanan yang haram; supaya kita menjaga diri jangan
sembarang memakan makanan. Bahkan makanan halal pun tidak boleh kita
makan sebelum datang waktunya yang tepat. Jadi jangan sembarang makan.
Jangan makan asal saja. Kita mesti memperhatikan apa yang kita makan itu.
Pesan moral Ramadhan adalah jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan
orang lain. Jangan jadikan perut Anda sebagai kuburan rakyat kecil.
Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke perut Anda. Itulah
pesan moral puasa yang menurut saya relevan dengan kondisi saat ini;
ketika kita dikejar-kejar oleh konsumtivisme (senang berfoya-foya dan
berbelanja barang yang tidak bermanfaat) dan dikejar-kejar untuk
meningkatkan status sosial. Kita jarang berani memakan hak orang lain.
Kita sering jadi omnivora (binatang pemakan segala) tanpa
memperhatikan halal dan haram.
Semoga kita berpuasa sesuai dengan hakikatnya.
Wallahu `alam…

* Mahasiswa STAIN Samarinda Jurusan Dakwah/Manajemen Dakwah. Dan PK.
PMII STAIN Samarinda

Karena Beda Aku Dewasa

Karena Beda Aku Dewasa
Oleh: M. Taufik Bilfagih*
Pada tahun 2004, Bill menjadi seorang pemuda Kosiem (Komunitas Islam
Emansipatoris) . Selama empat hari, dia mengikuti pendidikan Islam
Emanasipatoris dan dilatih secara intensif di Auditorium MAN Model
Samarinda, di mana tempat itu adalah wadah pengkaderan komunitas Islam
Emansipatoris dalam bentuk pendidikan dan pelatihan. Dia mempelajari
paham agama dalam pandangan tafsir emansipatoris yang sangat kekinian
(kontekstual) , bentuk Islam Emansipatoris, visi dan misi Islam
Emansipatoris dan gerakan serta wacana Islam Emansipatoris, semuanya
diperolehnya melalui pendidikan tersebut. Dia pulang dengan membawa
sertifikat dan banyak wacana ke-Islaman dari sana. Dan disaat itulah
dia resmi menjadi anggota Kosiem dan harus mengamalkan apa yang
menjadi visi dan misi Kosiem (Humanis, Kritis, Transpormatif dan
Praksis. Red). Segera setelah kembali ke kampusnya (STAIN Samarinda),
dia aktif memperjuangkan paham Islam Emansipatoris dengan mengadakan
kajian setiap malam minggunya, menerbitkan buletin, dan mencoba
mengkritik problem ke-Islaman yang terjadi di kampusnya (karena di
kampusnya, tidak sedikit dosen dan mahasiswanya berwatak konservatif
alias kuno). Dia merasa sangat berbahagia ketika mushallah Al-Dien
dikampusnya sering dijadikan tempat diskusi kajian wacana-wacana
kontempoer serta dinding-dinding kampusnya yang penuh dengan buletin
At-Taharrur—salah satu buletin yang tersohor di STAIN terbitan Kosiem
Kaltim. Sebagai kader Komunitas Islam Emansipatoris, dia berhasil
memberikan warna-warni dalam memahami Islam kepada kampusnya yang
kebanyakan komunitasnya berkarakter feodal.
Dua tahun kemudian, Bill masih menjadi pemuda dan kader militan Kosiem
apa lagi dia menjabat sebagai Public Relation di Kosiem Kaltim. Tetapi
kini dia bekerja sama dengan tokoh-tokoh HTI dan bahkan sedang jatuh
cinta dengan salah satu wanita HTI berjilbab besar alias "jilbaber"
yang tadinya dikritik melalui penafsiran emansipatorisnya. Dia bersama
tokoh-tokoh HTI tersebut mengelola sebuah organisasi baru yang
membantu bagi mereka berekonomi lemah. Para jamaahnya tak lagi
mempersoalkan ke-Kosiemnya yang dianggap terlalu `enteng' memahami agama.
Rupanya banyak orang seperti Bill, berasal dari HTI, PKS, FPI, Jamaah
Islamiyah, dll. Pada saat sebagian anggota Kosiem mulai mengamalkan
kajian diskusi keagamaan, sebagian HTI meninggalkannya. Dahulu HTI
menyebut dirinya benar, sedangkan Kosiem dan kawan-kawan sebagai kaum
kafir dan liberal. Sekarang Kosiem dan kawan-kawan menyatakan dirinya
benar; sementara HTI lebih liberal dari Wahabi (alias terlalu
fundomental) . Kini, khususnya pada kalangan anak-anak muda, ikhtilaf
pendapat dan firqoh tidak lagi menjadi fokus perhatian. Buat mereka,
tantangan yang dihadapi umat Islam jauh lebih besar daripada perbedaan
dalam cara-cara beribadat dan berpendapat.
Lebih dari itu, sekarang orang menyadari bahwa perbedaan mazhab fiqih
dan perbedaan pendapat itu seringkali dibesar-besarkan untuk
kepentingan politik. Kesadaran bahwa konflik mazhab atau firqoh itu
lahir dari kepentingan politik adalah fakta sebuah sejarah. Bukankah
dua mazhab awal --Sunni dan Syiah-- muncul karena perbedaan visi politik?
Dalam suatu kajian di STAIN, Samarinda, disimpulkan bahwa
firqoh-firqoh sejalan dengan perkembangan sistem politik. Yaitu
bagaimana firqoh ini yang menguasai atau firqoh itu yang berkuasa
dalam suatu wilayah (negara maupun dunia). Kesadaran inilah tampaknya
mengubah Bill belakangan ini. Sehingga ia pun tak mempedulikan lagi
mana Kosiem dan mana HTI, siapa salah dan siapa yang benar. Yang dia
tahu hanyalah "Al Haqq min Rabbiq…". Kebenaran manusia masih bersifat
relatif dan nisbi, dan iapun mencoba mencari kebenaran melalui
firqoh-firqoh yang ada.
Barangkali orang-orang seperti Bill ingin mengikuti tradisi para imam
yang ada (imam fiqh) dimana mereka memiliki argument tersendiri dalam
persoalan pendapat dan beribadat. Namun mereka tetap menghormati dari
apa yang menjadi pedoman dari imam lain ketika mereka berada di
wiliyah imam yang lain tersebut (contoh kecil yakni persoalan kunut).
Selain itu, terkait persoalan fiqh mungkin seorang Bill sedang
merefleksikan dari apa yang pernah terjadi di jaman para sahabat, Ibnu
Mas'ud. Ibnu Mas'ud kecewa betul ketika mendengar Khalifah Utsman
shalat Zhuhur dan Ashar sebanyak masing-masing empat rakaat di Mina.
Utsman r.a. dianggap telah meninggalkan sunnah Rasulullah SAW. Tetapi,
ketika Ibnu Mas'ud shalat berjamaah di Mina di belakang Utsman r.a.,
ia shalat seperti shalatnya Utsman r.a. Ketika orang mempertanyakan
hal itu, Ibnu Mas'ud berkata,"Bertengkar itu semuanya jelek!" (Hadist
Riwayat Abu Dawud).
Artinya, apakah hari ini kita akan mempersoalkan perbedaan yang sudah
jelas memiliki hikmah dalam performa kehidupan. Apakah kita akan
selalu bertengkar dari persoalan perbedaan. Semua itu bukanlah hal
yang subtansi, melainkan bentuk pemecah belahan umat. Karena jelas
dalam nash Qur'an bahwa "Wa' tashimuu bi hablillah jamiiaa walaa
tafarraquu…" Dan berpegang teguhlah kepada tali agama Allah dan
janganlah bercerai berai… "Innal Mu'minuuna Ikhwatun, fa ashlihuu…"
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara maka damaikanlah…
Hari ini sudah saatnya bangsa Islam bangkit dari ketertinggalannya,
hari ini sudah saatnya umat muslim memberikan kontribusi yang
signifikan bagi kehidupan dunia. Jangan terlalu larut dengan wacana
akhirat, sementara di dunia kita hanya selalu mementingkan diri
sendiri bahkan firqoh kita sendiri. Belajarlah dari fenomena kehidupan
Bill yang mencoba melihat segala sesuatu dari berbagai macam aspek.
Semoga bentuk memahami perbedaan adalah sebuah cara untuk menyatukan
umat bukannya penghancur. Hindari pertengkaran. Bertengkar itu kada'
nyaman. Hidup Bill, karena memahami perbedaan diapun mulai tumbuh
lebih dewasa dalam memahami segala bentuk skenario Tuhan sang "Sutradara"

* Penulis adalah mahasiswa STAIN Samarinda Jurusan Dakwah semtr.III.
saat ini menjabat sebagai Ketua Umum HMJ Dakwah dan Rayon Dakwah PMII
STAIN Smd